Minggu, 23 Desember 2018

Limited Domain

VIKTOR EMIR FRANKL

Viktor Emir Frankl adalah seorang dokter ahli saraf dan jiwa (neuropsikiater) keturunan Yahudi yang dilahirkan pada tanggal 26 Maret 1905 di Wina Australia dan meninggal dunia pada tanggal 02 September 1997 di Australia. Nilai-nilai dan kepercayaan Yahudi yang kuat membuat ia memiliki minat yang besar dalam persoalan keagamaan, khususnya dalam konteks makna dari hidup.

Pada tahun 1942, saat Perang Dunia II terjadi, Frankl bersama istri dan orangtuanya termasuk salah satu dari ribuan warga Yahudi yang ditahan oleh tentara NAZI, dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Frankl dan ribuan orang Yahudi yang tidak bersalah menjadi sasaran utama program pemusnahan yang intensif oleh Adolf Hitler. Selama tiga tahun menjadi tahanan, Frankl banyak menyaksikan para tahanan disiksa, diteror, bahkan dibunuh secara kejam. Ia sendiri pun mengalami penderitaan yang yang luar biasa. Namun, Frankl berusaha untuk meringankan penderitaan sesama tahanan baik secara medis maupun psikologis. Selama disana pula, ia banyak menghayati pengalaman dan perasaannya sendiri secara mendalam. 

Frankl mengamati tahanan disekitarnya, dan melihat ada sebagian tahanan yang tetap menunjukkan sikap tabah, bertahan dan bahkan berusaha membantu sesama tahanan (berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan (meaning in suffering). Namun, ada pula tahanan yang mengalami keputus asaan, apatis, dan kehilangan semangat hidup, bahkan bunuh diri guna membebaskan diri daripenderitaan.  Melalui pengalamannya itulah Frankl menjadikan dirinya eksistensialis dan percaya bahwa individu mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah dalam hidupnya apabila kehidupannya itu memiliki makna dari segala hal yang dilaksanakan atau yang dijalaninya, termasuk dan yang terutama adalah makna hidupnya itu sendiri (Budiraharjo, 1997).

Prinsip Utama
Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri, kemudian mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani (Budiraharjo, 1997). Mencari makna hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan dengan Logoterapi. Logoterapi berasal dari kata “logos” dalam bahasa Yunani yang berarti makna atau meaning dan juga “rohani”. Sedangkan kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris theraphy yang artinya penggunaan teknik-teknik untuk penyembuhan atau mengurangi/meringankan suatu penyakit. Berarti, kata “logoterapi” artinya ialah penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup (Budiharjo, 1997).

Konsep Dasar
1. Kebebasan berkeinginan (freedom of will)
Kebebasan berkeinginan mengacu pada kebebasan manusia dalam menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi biologis, psikologis, dan sosio-kultural. Termasuk pula didalamnya kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap berbagai kondisi lingkungan, maupun terhadap kondisi diri sendiri (self-detachment). Dalam hal ini, kebebasannya pun harus yang bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan.

2. Keinginan akan makna (the will to meaning)
Hal inilah yang menjadi motivasi utama dari kepribadian manusia. Frankl menyatakan bahwa makna dan nilai-nilai hidup itu seakan akan menarik dan menawari manusia untuk memenuhi kenyataan hidup yang menyediakan tegangan khusus, yaitu tegangan antara kenyataan diri pada waktu sekarang dan makna-makna yang harus dipenuhi.

3. Makna hidup
Menurut Frankl, yang paling dicari dan diinginkan manusia didalam hidupnya ialah “makna”, yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan.

Psikopatologi
Menurut pandangan Frank, manusia terbedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama yaitu orang yang masih mencari makna hidupnya, dan kelompok yang kedua yaitu mereka yang telah menemukan makna hidupnya melalui pemenuhan. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup akan menimbulkan semacam frustasi yang disebut Existential frustration dan kondisi yang disebut Existential vacuum. Hal itu identik dengan gejala utamanya berupa penghayatan hidup tak bermakna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tak berarti, serba bosan dan apatis (Frankl, 1970 dalam Budiraharjo, 1997). Keadaan penghayatan hidup yang tak bermakna yang berlarut-larut tanpa penyelesaian yang tuntas tentu akan menjelma menjadi sejenis gangguan neurosis baru yang disebut Frankl sebagai Noogenic neurosis.

Sabtu, 22 Desember 2018

DRUGS AND ADDICTION

 

PSYCHOACTIVE DRUGS
        Obat terlarang merupakan sebuah zat yang masuk kedalam tubuh dan dapat merubah tubuh atau fungsi tubuh tersebut. Obat-obatan terlarang masuk kedalam satu dari dua bagian umum, tergantung dari efeknya terhadap sistem neurotransmitter. Hal ini dapat menaikkan efek dari neurotransmitter. Ini dapat diatasi dengan efek yang sama terhadap reseptor sebagai neurotransmitter, dengan menaikkan efek neurotransmitter pada reseptor atau degradasi dari neurotransmitter.
Penggunaan obat-obatan psikoaktif mempunyai efek terhadap psikologis seperti halusinasi. Efek dari penyalah gunaan obat-obatan terlarang sangat bervariasi, salah datunya dapat menimbulkan ketenangan, memperluas efek kesadaran. Zat tersebut memiliki beberapa efek dimana untuk menegtahuinya harus ada pembahasan secara lebih lanjut untuk mengetahui bagai mana zat tersebut bekerja.
Kebanyakan obat-obatan terlarang dapat menyebabkan ketergantungan, dimana ketergantungan di identifikasi oleh keasikan terhadap sesuatu zat, dorongan untuk menggunakan zat tersebut, dan memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menggunakannya lagi setelah berhenti. Kebanyakan dari obat-obatan terlarang mengakibatkan reaksi withdrawal. Withdrawal adalah reaksi negative yang terjadi ketika pengguna sudah berhenti menggunakan obat terlarang. Withdrawal symptoms memberikan efek terhadap pengguanaan obat-obatan terlarang; dimana dapat memproduksi elasi yang menyebabkan depresi  dan akhir dari penggunaan obat terlarang itu dapat menyebabkan sedasi pada agitasi.
Toleransi juga terjadi terhadap obat yang paling disalahgunakan ketika digunakan secara teratur, toleransi berarti meningkatnya jumlah obat yang diperlukan untuk menghasilkan hasil yang sama. Sebagian besar toleransi terhadap obat psikoaktif adalah karena pengurangan kompensasi dalam jumlah atau sensitivitas reseptor. Toleransi dapat berefek pada beberapa obat yang mana tidak terjadi pada jenis yang lainnya contoh, toleransi dapat berkembang dengan efek suasana hati sementara efek rangsang atau penenang yang tidak berkurang dengan jelas terhadap kesehatan pengguna ketika dosis meningkat.

Opiates
Opiates merupakan obat terlarang yang berasal dari benih bunga opium. Opiates mempunyai efek yang bervariasi seperti; analgestic dan hypnotic. Obat ini memproduksi rasa euphoria yang sangat tinggi ( rasa bahagia atau ekstasi). Opium sudah digunakan sejak 400 tahun sebelum masehi. Pada awal 1800 masehi opiate sangat berharga sebagai obat untuk operasi, luka akibat peperangan dan kanker
Heroin disintesis dari morfin dipasarkan oleh Bayer Drug Company dari jerman. Sekarang menjadi barang yang illegal di amerika. Opiate telah digantikan oleh obat-obatan sintesis yang lebih aman untuk menghilangka rasa sakit meskipun morfin terus digunakan oleh pasien kanker dan membuat perjanjian untuk penggunan yang aman dan untuk mengilangkan rasa sakit dalam kurun waktu yang tidak dapat menyebabkan resiko kecanduan.
Semua opiat merupakan subjek penyalahgunaan, tetapi heroin adalah yang paling notorius, karena efek intens; bercahaya, seperti organism-sensation yang terjadi dalam hitungan detik, diikuti relaksasi mengantuk dan kepuasan. Karena heroin sangat larut dalam lipid, melewati penghalangblood-brain dengan mudah , efek yang cepat meningkatkan potensi adiktif. Bahaya utama dari penggunaan heroin adalah overdosis baik dari upaya untuk mempertahankan efek menyenangkan dalam menghadapi meningkatnya toleransi. Opiate mempengaruhi reseptor opiate khusus. Mengapa otak memiliki reseptor untuk obat yang disalah gunakan, hal ini terjadi karena tubuh memproduksi ligan tersendiri untuk reseptor opiate. Ligan adalah zat yang mengikat reseptor. Opiate efektif karena dapat meniru endogen (yang dihasilkan didalam tubuh) opiate dikenal sebagai endorphin.

Depresan
Depresan adalah obat yang dapat mengurangi aktivitas sistem saraf pusat. Jenisnya termasuk alkohol, sedative (menenangkan), anxiolytic (mengurangi kecemasan) dan hypnotic. Alkohol merupakan jenis yang paling berbahaya.
Alkohol
Etanol atau alkohol adalah obat yang difermentasi dari buah-buahan, biji-bijian dan produk tanaman lainnya. Dimana ini dapat memproduksi banyak nagian dari otak seperu euphoria, anxiety reduction, motor incoordination dan gangguan kognitif. Alkohol melibatkan tremor, gelisah, mood dan gangguan tidur. Beberapa reaksi ini dikenal sebagai delirium tremens-hallicinations, delusi, kebingungan dan dalam kasus eksrim bias kejang atau pun kematian,
Resiko kesehatan pecandu alkohol kronis adalah sirosis hati, yang dapat berakibat fatal. Pecandu alkohol kronis juga erat dengan kejahatan kekerasan. Salah satu alasannya adalah bahwa alcohol dapat mengurangi kecemasan yang biasanya menghambat agresi.
Alkohol menghambat aksi dari subtipe dari reseptor glutamat. Glutamat adalah neurotransmitter yang paling umum. Ada peningkatan kompensasi jumlah reseptor ini, dan peningkatan sensitivitas terjadinya kejang yang kadang-kadang terjadi selama withdrawal. Alcohol juga subtype A aktif dari reseptor untuk asam gamma aminobutyric (reseptor GABA). Kompleks reseptor dengan setidaknya lima jenis reseptor. Satu reseptor merespon (GABA) yang neurotrasnsmitter  merupakanpenghambat yang paling lazim.
Baburat dan benzodiazepine
Barbiturat dalam jumlah kecil bertindak selektif pada pusat kortikal yang lebih tinggi, terutama mereka yang terlibat dalam menghambat perilaku, sehingga mereka menghasilkan talktiveness dan meningkatkan interaksi sosial, dalam dosis yang lebih tinggi bersifat hipnotik. Long-acting baburat, seperti barbital dan fenobarbital, mengurangi kecemasan dan juga berguna dalam mencegah kejang pada pasien epilepsi. Shorter-acting baburat meringankan insomnia dan ultrashort bertindak barbiturat seperti anestesi umum awal dalam operasi. Barbiturat tidak mengurangi rasa sakit, tetapi mereka mengurangi kecemasan yang berhubungan dengan nyeri.
Barbiturat sangat berbahaya jika digunakan bersama dengan alkohol. Overdosis atau dikombinasikan digunakan dengan alkohol menekan sistem saraf pusat dan sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan koma dan bahkan kematian.
Beberapa dekade yang lalu, barbiturat adalah obat pilihan untuk mengobati kecemasan dan untuk aplikasi lain yang membutuhkan sedasi, kewajiban mereka adalah potensi kecanduan dan untuk overdosis. Disengaja atau tidak disengaja yang mengganti dengan benzodiazepin, yang memiliki efek mirip dengan barbiturat tapi lebih aman karena mereka tidak membuka saluran klorida (Julien, 2001). Ada beberapa obat benzodiazepine, yang paling dikenal di antaranya adalah valium (diazepan) dan xanax (alprazolam).

Stimulants
               Stimulan menjadikan sistem saraf pusataktif  untuk menghasilkan gairah, meningkatkan kewaspadaan, dan suasana hati menjadi naik. Stimulant terbagi menjadi  berbagai obat-obatan, dari kokain kafein, yang bervariasi dalam tingkat risiko yang banyak pula. bahaya terbesar terletak pada bagaimana kita menggunakannya.
 
Kokain
               Kokain, yang diekstrak dari tanaman koka Amerika selatan, menghasilkan euforia, nafsu makan menurun, meningkatkan kewaspadaan, dan mengurangi kelelahan. diproses dengan asam klorida ke dalam kokain hidroklorida, menghasilkan bubuk putihyang di gunakan dengan cara "mendengus" (inhalasi) atau dicampur dengan air dan disuntikkan. kokain murniatau basa bebas , dapat diekstraksi dari kokain hidroklorida oleh kimia dengan menghilangkan asam klorida. Basa bebas tersebut di hirupdan kemudian memasuki aliran darah dan mencapai otak dengan cepat. Kimia sederhanatersebut  menghasilkan kokain murni dalam bentuk uap ketika merokok.Penggunaannya telah menyebar dalam masyarakat perkotaan dari kalangan kaya maupun miskin.
               Kokain tidak selalu dipandang sebagai obat yang berbahaya. daun koka telah dikonsumsi oleh masyarakat Indian Amerika selatan selama berabad-abad. Ketika Cocain diisolasi pada 1800-an,  awalnya digunakan sebagai anestesi lokal dan satu-satunya anastesi yang  tersedia pada saat itu. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, memperjuangkan penggunaan kokain, memberikan kepada-Nya tunangan, saudara, teman, rekan kerja, dan resep untuk pasiennya. ia bahkan menulis sebuah esai yang ia sebut "lagu pujian" untuk kebajikan kokain ini. Tetapi pada akhirnya ia menyerah dengan penggunaan kokain tersebut, baik secara pribadi dan profesional, ketika ia menyadari bahayanya.
               Kokain menahan dopamin dan serotonin di sinaps. dopamin biasanya memiliki efek penghambatan, dan kokain mengurangi aktivitas di banyak otak. Kokain menghasilkan euforia dan kegembiraan karena dopamin menghilangkan hambatan korteks yang biasanya diberikannya pada struktur yang lebih rendah. Mengurangi aktivitas kortikal khas dari obat yang menghasilkan euforia, termasuk benzodiazepin, barbiturat, amfetamin, dan morfin.
Dengan cara penyuntikan dan merokok menghasilkan euforia langsung dan intens, yang meningkatkan potensi adiktif. Penggunaan kokain dapat menyebabkan kerusakan otak ringan, dan penggunaan jangka panjang dengan dosis yang tinggi akan menghasilkan gejala psikotik seperti overdosis, kejang, dan kematian. efek penarikan biasanya ringan, melibatkan kecemasan, kurangnya motivasi, kebosanan, dan kurangnya kesenangan.
 
Amfetamin
               Amfetamin adalah kelompok obat sintetik yang menghasilkan euforia dan peningkatan kepercayaan dan konsentrasi. kelompok yang termasuk dalam amfetamin sulfat (dipasarkan sebagai Benzedrine), tiga sampai empat kali yang lebih kuat dextroamphetamine sulfat (dipasarkan sebagai Dexedrine), dan methamphetamine yang lebih kuat (dikenal dengan  kecepatan, engkol, dan kristal). Seperti kokain, amfetain dapat dimurnikan untuk menjadi basa bebas yang disebut es, yang smokable. Karena menumpulkan nafsu makan, mengurangi kelelahan, dan meningkatkan kewaspadaan, amfetamin telah muncul dalam obat penurunan berat badan dan obat untuk menunda tidur. Itu telah berguna dalam mengobati penyakit seperti narkolepsi, gangguan tak terkendali kantuk di siang hari .
                Penggunaan amfetamin ini dapat menyebabkan halusinasi dan delusi penganiayaan yang begitu mirip dengan sympthoms skizofrenia paranoid yang profesional bahkan terlatih tidak dapat diakui perbedaannya. Dalam penelitian laboratorium, gejala psikotik berkembang setelah satu sampai empat hari seseorang mengonsumsi amfetamin tersebut yang kemudian akan menjadi kronis..
 
Nikotin
               Nikotin dalam agen psikoaktif dan adiktif utama adalah dalam bentuk tembakau. tembakau dicerna dengan cara merokok, mengunyah, dan menghirup (sebagai tembakau, bentuk bubuk halus). nikotin memiliki efek yang hampir unik; ketika tembakau di hisap(merokok)akan terjadi efek merangsang; ketika menarik napas dalam, kita akan merasakan efek menenangkan atau efek depresan. Dalam dosis besar nikotin dapat menyebabkan mual, muntah, dan sakit kepala; dalam dosis yang sangat tinggi itu cukup kuat untuk menghasilkan kejang dan bahkan kematian pada hewan laboratorium. Gejala yang paling menonjol adalah kegelisahan dan kecemasan, kantuk ringan, dan sakit kepala. 
 
Kafein
               Kafein adalah bahan aktif yang terdapat dalam kopi, menghasilkan gairah, meningkatkan kewaspadaan, dan penurunan kantuk. Hampir sama seperti amfetamin dan kokain, efeknya meningkatkan pelepasan dopamin dan asetilkolin. Karena efek kafein  akan seperti obat penenang dan efek depresi, menghalangi reseptor kontribusi untuk gairah.

Psychedelics 
Obat psychedelics adalah senyawa yang menyebabkan persepsi disorti pada pengguna. merupakan senyawa yang menyebabkan distortions perseptual pada penggunanya. psychedelic yang paling popular adalah LSD.  LSD ini sendiri secara struktur, mirip dengan serotonin dan menstimulasi reseptor serotonin. Ekstasi adalah nama lain dari narkoba yang dikembangkan sebagai senyawa penurunan berat badan, yang disebut methylenedioxymethamphetamine (atau disebut juga MDMA). Obat-obatan ini yang populer pada anak remaja. Sedangkan distorsi sensorik yang mungkin disebabkan oleh serotonin, berpengaruh positif  pada suasana hati karena efek dari dopamin (Liechti & Vollenweider, 2000).
Marijuana
Marijuana adalah daun kering dan hancur dan bunga dari tanaman india, cannabis sativa. Ganja biasanya ada pada rokok tapi bisa dicampurka pada makanan dan dimakan. Bahan psikoaktif utamanya adalah  delta-9-tetrahydrocannabinol (THC). THC terutama terkonsentrasi pada daun kering dari tanaman, yang disebut bashish.
Receptor ditemukan di terminal akson serta pada dendrit. Reseptor cannabinoid secara luas mendistribusikannya pada otak dan saraf tulang belakang, yang mungkin memliki penyebab perilaku dari efek ganja tersebut. Reseptor pada korteks depan mungkin memiliki gangguan fungsi kognitif dan distorsi pada rasa dan persepsi sensorik.

ADDICTION
Kecanduan adalah hasil dari keinginan pengguna untuk menghindari gejala penarikan. Ada beberapa kelemahan penting dalam hal ini. Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak menjelaskan apa yang memotivasi orang untuk menggunakan obat sampai ketergantungan. Kedua, kita tahu bahwa banyak pecandu melalui penarikan cukup secara teratur untuk me-reset tingkat toleransi mereka sehingga mereka bisa mendapatkan dengan jumlah yang lebih rendah dan lebih murah dari obat Ketiga , itu tidak menjelaskan mengapa banyak pecandu kembali ke obat setelah lama pantang dan lama setelah gejala penarikan memiliki sub sisi. Akhirnya, addictiveness dari obat tidak berhubungan dengan tingkat keparahan penarikan-gejala, misalnya, dalam kasus kokain dan methamphetamine (Leshner, 1997)..
 

DAFTAR PUSTAKA
Garrett, Bob. (2003). Brain an Behavior. Wadsworth, Thomson Learning, Inc.
 

Minggu, 16 Desember 2018

RESILIENSI

Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté, 2002)
Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda dan hampir tidak ada satupun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik.
Kemampuan ini terdiri dari:
  1. Regulasi Emosi
  2. Pengendalian Impuls
  3. Optimisme
  4. Empati
  5. Analisis Penyebab Masalah
  6. Efikasi Diri
  7. Peningkatan Aspek Positif

Regulasi EmosiSunting

Menurut Reivich dan Shatté (2002) regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan. Individu yang memiliki kemampuan meregulasi emosi dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi rasa cemas, sedih, atau marah sehingga mempercepat dalam pemecahan suatu masalah. Pengekspresian emosi, baik negatif ataupun positif, merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat. Pengekpresian emosi yang tepat menurut Reivich dan Shatté (2002) ]merupakan salah satu kemampuan individu yang resilien.
Reivich dan Shatté (2002) mengemukakan dua hal penting yang terkait dengan regulasi emosi, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua keterampilan ini, dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stress.

Pengendalian ImpulsSunting

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan pengendalian impuls sebagai kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Individu dengan pengendalian impuls rendah sering mengalami perubahan emosi dengan cepat yang cenderung mengendalikan perilaku dan pikiran mereka. Individu seperti itu seringkali mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga lingkungan sosial di sekitarnya merasa kurang nyaman yang berakibat pada munculnya permasalahan dalam hubungan sosial.

OptimismeSunting

Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka memiliki harapan pada masa depan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah hidupnya. Dalam penelitian yang dilakukan, jika dibandingkan dengan individu yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik, dan lebih jarang mengalami depresi, lebih baik di sekolah, lebih produktif dalam kerja, dan lebih banyak menang dalam olahraga (Reivich & Shatté, 2002). Optimisme mengimplikasikan ibahwa individu percaya bahwa ia dapat menangani masalah-masalah yang muncul pada masa yang akan datang (Reivich & Shatté, 2002)

EmpatiSunting

Empati merepresentasikan bahwa individu mampu membaca tanda-tanda psikologis dan emosi dari orang lain. Empati mencerminkan seberapa baik individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain (Reivich & Shatté, 2002). Selain itu, Werner dan Smith (dalam Lewis, 1996) menambahkan bahwa individu yang berempati mampu mendengarkan dan memahami orang lain sehingga ia pun mkendatangkan reaksi positif dari lingkungan. Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif (Reivich & Shatté, 2002).

Analisis Penyebab MasalahSunting

Seligman (dalam Reivich & Shatté, 2002) mengungkapkan sebuah konsep yang berhubungan erat dengan analisis penyebab masalah yaitu gaya berpikir. Gaya berpikir adalah cara yang biasa digunakan individu untuk menjelaskan sesuatu hal yang baik dan buruk yang terjadi pada dirinya.
Gaya berpikir dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu:
  1. Personal (saya-bukan saya) individu dengan gaya berpikir ‘saya’ adalah individu yang cenderung menyalahkan diri sendiri atas hal yang tidak berjalan semestinya. Sebaliknya, Individu dengan gaya berpikir ‘bukan saya’, meyakini penjelasan eksternal (di luar diri) atas kesalahan yang terjadi.
  2. Permanen (selalu-tidak selalu) : individu yang pesimis cenderung berasumsi bahwa suatu kegagalan atau kejadian buruk akan terus berlangsung. Sedangkan individu yang. optimis cenderung berpikir bahwa ia dapat melakukan suatu hal lebih baik pada setiap kesempatan dan memandang kegagalan sebagai ketidakberhasilan sementara.
  3. Pervasive (semua-tidak semua) : individu dengan gaya berpikir ‘semua’, melihat kemunduran atau kegagalan pada satu area kehidupan ikut menggagalkan area kehidupan lainnya. Individu dengan gaya berpikir ‘tidak semua’, dapat menjelaskan secara rinci penyebab dari masalah yang ia hadapi. Individu yang paling resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas kognisi dan dapat mengidentifikasi seluruh penyebab yang signifikan dalam permasalahan yang mereka hadapi tanpa terperangkap dalam explanatory style tertentu.

Efikasi DiriSunting

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.

Peningkatan aspek positifSunting

Menurut Reivich dan Shatté (2002)).  resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Individu yang meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. Individu yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi (Reivich dan Shatte, 2002).

Selasa, 11 Desember 2018

Limited Domain

VIKTOR EMIR FRANKL Viktor Emir Frankl adalah seorang dokter ahli saraf dan jiwa (neuropsikiater) keturunan Yahudi yang dilahirkan pada ...