VIKTOR EMIR FRANKL
Viktor Emir Frankl adalah seorang dokter ahli saraf dan jiwa (neuropsikiater) keturunan Yahudi yang dilahirkan pada tanggal 26 Maret 1905 di Wina Australia dan meninggal dunia pada tanggal 02 September 1997 di Australia. Nilai-nilai dan kepercayaan Yahudi yang kuat membuat ia memiliki minat yang besar dalam persoalan keagamaan, khususnya dalam konteks makna dari hidup.
Pada tahun 1942, saat Perang Dunia II terjadi, Frankl bersama istri dan orangtuanya termasuk salah satu dari ribuan warga Yahudi yang ditahan oleh tentara NAZI, dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Frankl dan ribuan orang Yahudi yang tidak bersalah menjadi sasaran utama program pemusnahan yang intensif oleh Adolf Hitler. Selama tiga tahun menjadi tahanan, Frankl banyak menyaksikan para tahanan disiksa, diteror, bahkan dibunuh secara kejam. Ia sendiri pun mengalami penderitaan yang yang luar biasa. Namun, Frankl berusaha untuk meringankan penderitaan sesama tahanan baik secara medis maupun psikologis. Selama disana pula, ia banyak menghayati pengalaman dan perasaannya sendiri secara mendalam.
Frankl mengamati tahanan disekitarnya, dan melihat ada sebagian tahanan yang tetap menunjukkan sikap tabah, bertahan dan bahkan berusaha membantu sesama tahanan (berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan (meaning in suffering). Namun, ada pula tahanan yang mengalami keputus asaan, apatis, dan kehilangan semangat hidup, bahkan bunuh diri guna membebaskan diri daripenderitaan. Melalui pengalamannya itulah Frankl menjadikan dirinya eksistensialis dan percaya bahwa individu mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah dalam hidupnya apabila kehidupannya itu memiliki makna dari segala hal yang dilaksanakan atau yang dijalaninya, termasuk dan yang terutama adalah makna hidupnya itu sendiri (Budiraharjo, 1997).
Prinsip Utama
Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri, kemudian mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani (Budiraharjo, 1997). Mencari makna hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan dengan Logoterapi. Logoterapi berasal dari kata “logos” dalam bahasa Yunani yang berarti makna atau meaning dan juga “rohani”. Sedangkan kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris theraphy yang artinya penggunaan teknik-teknik untuk penyembuhan atau mengurangi/meringankan suatu penyakit. Berarti, kata “logoterapi” artinya ialah penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup (Budiharjo, 1997).
Konsep Dasar
1. Kebebasan berkeinginan (freedom of will)
Kebebasan berkeinginan mengacu pada kebebasan manusia dalam menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi biologis, psikologis, dan sosio-kultural. Termasuk pula didalamnya kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap berbagai kondisi lingkungan, maupun terhadap kondisi diri sendiri (self-detachment). Dalam hal ini, kebebasannya pun harus yang bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan.
2. Keinginan akan makna (the will to meaning)
Hal inilah yang menjadi motivasi utama dari kepribadian manusia. Frankl menyatakan bahwa makna dan nilai-nilai hidup itu seakan akan menarik dan menawari manusia untuk memenuhi kenyataan hidup yang menyediakan tegangan khusus, yaitu tegangan antara kenyataan diri pada waktu sekarang dan makna-makna yang harus dipenuhi.
3. Makna hidup
Menurut Frankl, yang paling dicari dan diinginkan manusia didalam hidupnya ialah “makna”, yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan.
Psikopatologi
Menurut pandangan Frank, manusia terbedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama yaitu orang yang masih mencari makna hidupnya, dan kelompok yang kedua yaitu mereka yang telah menemukan makna hidupnya melalui pemenuhan. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup akan menimbulkan semacam frustasi yang disebut Existential frustration dan kondisi yang disebut Existential vacuum. Hal itu identik dengan gejala utamanya berupa penghayatan hidup tak bermakna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tak berarti, serba bosan dan apatis (Frankl, 1970 dalam Budiraharjo, 1997). Keadaan penghayatan hidup yang tak bermakna yang berlarut-larut tanpa penyelesaian yang tuntas tentu akan menjelma menjadi sejenis gangguan neurosis baru yang disebut Frankl sebagai Noogenic neurosis.
Menarik untuk dikembangkan
BalasHapusWah baru tau saya
BalasHapus